Sabtu, 24 Desember 2011

Lilin Lambang Kepemimpinan


Malam ini kami umat kristiani merayakan malam natal. pada perayaan seperti ini sudah menjadi suatu kebiasaan untuk menyalakan lilin sebagai salah satu moment puncak dari malam natal tersebut. pada moment inilah saya terinspirasi akan sebuah lilin.

lilin adalah alat penerangan yang sederhana yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dan masih terus menerangi kita sampai saat ini, walaupun dominasi lampu listrik telah menguasai dunia, namun hampir disetiap rumah kita selalu tersedia lilin (siapa ahu mati lampu atau listrik padam). lilin tetap menjadi bagian penting dalam hidup kita manusia.

lalu apa yang kita bisa pelajari dari sebuah lilin? dan apa hubungannya dengan kepemimpinan?

Memberi terang.

inilah fungsi esensi dari sebuah lilin, memberikan penerangan dikala gelap. teringat ketika mati lampu, saya mencari korek untuk menyalakan lilin. setelah dinyalakan cahayanya yang kecil itu langsung memenuhi ruangan kita yang gelap. cahaya lilin membuat kita dapat melihat dengan lebih jelas ke sekitar kita. kepemimpinan bagaikan lilin, aspek utama dari kepemimpinan adalah visi. visi dapat menjawab kemana akan dibawa organisasi kita di masa depan. seorang pemimpin harus dapat membawa pengikutnya melihat kedepan dan memberi arah ke tujuan. memimpin diawali dengan membawa pengikut kita untuk dapat membayangkan tujuan akhir dari perjalanan. beberapa orang menyebutnya mimpi atau angan-angan atau bisa juga disebut target atau steven covey menggunakan bahasa "Begin with the end in mind". hal2 inilah yang harus dapat dikomunikasikan seorang pemimpin kepada organisasi atau pengikutnya. yang kedua adalah memberikan arahan kepada mereka untuk mencapai visi tersebut. tanpa arahan maka mimpi tinggallah mimpi dan angan2 akan sirna. arahan ini akan membedakan pemimpin dan pemimpi. pemimpin akan menunjukkan hal-2 ang harus dilakukan untuk mencapai target yang sudah dikomunikasikan sebelumnya. demikianlah cahaya seorang pemimpin akan terang bila melakukan dua hal tersebut, namun untuk menghasilkan cahaya tersebut sebuah liln perlu melakukan sesuatu yang amat penting yaitu membakar dirinya dan kita masuk ke bagian yang kedua yaitu

Pengorbanan

lilin dapat menyala ketika api membakar sumbunya, dan seiring dengan sumbu itu menyala maka lilin akan habis sedikit demi sedikit agar cahaya tersebut tetap menyala. inilah pengorbanan sebuah lilin untuk menerangi sekitarnya. seorang pemimpin sejati juga melakukan pengorbanan. memimpin bukan berarti kita menjadi boss yang bisa ongkang-ongkang kaki, suruh sana dan sini, tapi kitalah yang harus paling tahu tentang segala sesuatu dan siap sedia menjadi pelayan bagi organisasi atau setiap pengikut kita. pemimpin perlu meluangkan waktu lebih banyak berfikir tentang semua hal yang berkaitan dengan tujuan dan impian organisasi. selain waktu, pikiran, tenaga juga menjadi bagian yang perlu kita korbankan demi tercapainya tujuan. seorang pemimpin perlu juga ikut turun ke lapangan bersama anak buahnya menyelesaikan masalah dan tantangan yang ada, disini pemimpin akan memutuskan solusi yang terbaik bagi masa depan organisasi. pengorbanan sebuah lilin tentunya ada ujungnya, karena lilin akan habis batangnya. untuk mempertahankan cahaya maka lilin perlu membagi api pada lilin yang lain, dan kita sampai pada bagian yang ketiga yaitu

Menyalakan lilin lain.

lilin yang terbakar akan habis dan jika kita tidak menyalakan lilin yang baru maka cahaya yang menerangi ruangan akan padam. dari sini kita belajar bahwa seorang pemimpin yang sejati menghasilkan pemimpin lainnya. dengan cara membagi pengalaman dan menjadi mentor bagi generasi selanjutnya. proses menyalakan lilin yang baru tidaklah mudah, butuh waktu untuk sebuah sumbu dapat menyala secara independen tanpa support dari lilin sebelumnya. ketika kita mementor pemimpin baru dibutuhkan kesabaran dan ketekunan serta ketegaan untuk membiarkan kepemimpinan baru bertumbuh. kadang kita tergoda untuk ikut campur lagi didalam tantangan yang dihadapi oleh penerus kita. pada saat inilah kita harus tega dan pergi membiarkan mereka mengatasi setiap tantangan yang ada.

dengan demikian sampailah kita diakhir dari perjalanan sebuah lilin yaitu ketika seluruh batangnya sudah habis terbakar dan perlahan-lahan cahayanya meredup dan mati. disini kita tahu bahwa sebuah kepemimpinan tidaklah untuk selamanya. ada kalanya untuk berhenti memimpin sebuah organisasi. namun bukan berarti berhenti berkarya. kita dapat menyala ditempat yang baru dengan tantangan yang baru. tentunya dengan demikian kepemimpinan kita semakin dapat menerangi banyak orang.

akhir kata selamat Natal 2011 dan tahun baru 2012, jadilah lilin yang bercahaya.